Pengalamanku bersama UMV

Asalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Nama Saya Nensi, saya bergabung di Ummimaktum voice sejak February 1999, sebagai anggota tim nasyid. Bernasyid merupakan rutinitas saya bersama teman-teman setelah melaksanakan kewajiban sebagai pelajar di SD-SLBNA Bandung.

Sepulang dari sekolah, biasanya kami berkumpul di suatu tempat untuk berlatih. Waktu itu perkembangan nasyid di kota Bandung cukup baik dan dinamis. Hal itu terbukti dari padatnya jadwal silaturahmi UMV ke berbagai tempat diantaranya: majlis taklim, sekolah, walimah, dan kegiatan-kegiatan yang banyak diselenggarakan oleh para aktifis kampus.

Saya sendiri merasakan langsung perkembangan nasyid yang pesat karena disetiap silaturahmi menemukan tim nasyid baru baik yang diturunkan oleh tim nasyid senior, atau yang berdiri sendiri.

Kami biasa menghadiri silaturahmi pada hari Sabtu dan ahad dimana rutinitas kami di sekolah sedang longgar dalam kata lain kami sedang libur. Dalam setiap kesempatan, kami mencoba menunjukan sikap antosias yang tinggi saat menghadiri undangan silaturahmi. Bahkan, dalam keadaan sulit seperti saat libur sekolah yang semestinya kami berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, kami mencoba ikhlas untuk tetap menghadiri undangan dari masyarakat.

Berbekal kemampuan dan kemauan, serta semangat yang besar, kami mencoba untuk memberi yang terbaik sepanjang masyarakat masih memiliki kepercayaan penuh untuk kami menunjukan sebuah prestasi. Jujur meski saat itu diawal perjalanan nasyid kami masih belum memahami arti dari setiap lantunan syair penghias dakwah ini, kami justru lebih menganggap ini adalah suatu kegiatan pengisi waktu luang, penghilang kebosanan kami yang setiap hari hidup dalam lingkungan asrama, atau mungkin dijadikan peluang untuk mengumpulkan rupiah sekedar uang jajan kami sebagai anak-anak.

Berbulan-bulan kami lewati dengan maju pesatnya UMV di tengah maraknya nasyid di kota Bandung. Bersama tim Nasyid lainnya seperti Mupla, marhamah, Defiker, Adzam dan tim nasyid lain yang sudah tampak dewasa, kami terus berupaya untuk meramaikan panggung nasyid agar semakin ramai. Dalam setiap latihan, kami sering berangan-angan untuk bisa tampil di luar kota Bandung seperti Jakarta, tampil bersama tim nasyid kenamaan seperti Snada, Izatul islam, atau tim nasyid papan atas seperti raihan. Sebenarnya itu hanya angan-angan kecil yang melambung tinggi di atas awan yang ditanggapi senyum harap dari para fasilitator Kang Dani dan the Firda. Mereka dengan tulus dan sabar, membimbing langkah kami kemanapun kami mendapat undangan silaturahmi. Ya, meski terkadang mereka harus mementingkan kepentingan UMV dari kepentingan pribadi, mereka tak pernah terdengar mengeluh apa lagi marah pada kenakalan kami.

Waktu itu yang saya ingat tahun 1999 saya belum mengenakan pakaian muslim apa lagi jilbab. baru mengenakan jilbab saat masuk SMP pada tahun duaribuan. Itupun sedikit terpaksa karena sering malu bila ada teman-teman yang ingin bersilaturahmi ke UMV yang kadang datang ke asrama untuk berkenalan. Ah, itu tak berlangsung lama kok, justru dari keterpaksaan dan malu itulah yang akhirnya menimbulkan kesadaran pada kami untuk berusaha memasuki Islam secara benar. Banyak yang UMV berikan pada saya khususnya, sebab dengan UMV saya bisa tahu tak terbatasnya karunia Allah yang diberikan, dengan UMV, saya bisa tahu masyarakat sangat menghargai saya sebagai tunanetra, bahkan dengan UMV, saya bisa tahu setiap tempat di kota Bandung, dari bandung utara ke selatan, dari Bandung timur ke barat. Saya tahu ada banyak sekolah, madrasah, mesjid, kampus, daerah penduduk kalangan bawah sampai perumahan mewah, saya tahu bagaimana tampil di sebuah gedung megah seperti Sabuga sampai merasakan dinginnya angin ketika suatu malam dituntut tampil di pinggiran sawah.

Sebenarnya tim nasyid UMV bukan tim nasyid yang membutuhkan banyak embel-embel, mungkin yang diperlukan hanyalah kendaraan yang mengangkut harus lebih besar karena jumlah kami saat itu mencapai 16 orang. Kami tak pernah membawa secuilpun alat musik setiap kami bersilaturahmi, karena jenis music yang kami tampilkan adalah Akapela, tak perlu perkusi atau keyboard seperti kebanyakan tim nasyid lainnya. So, kami bisa saja tampil dalam acara pengajian dalam madrasah atau mesjid.

Mungkin itulah salahsatu alasan panitia lebih mengundang kami bila mereka mengadakan taklim dalam mesjid. Kami pernah beberapa kali menghadiri undangan nasyid di mesjid Alfurkon UPI, Saya tak tahu acara apakah itu, yang pasti setiap tahunnya kami eksis di situ, padahal akhirnya saya tahu namanya Tutorial saat saya masuk UPI tahun 2006 lalu. Kami juga pernah beberapa kali tampil di mesjid Pusda’i, mesjid Asodikin, Almuhajirin, dan beberapa mesjid lain yang tak sempat saya hafal.

Akhirnya, di pertengahan Juli 2001 kami mendapat hadiah besar dari prestasi yang selama itu kami tunjukan, pada sebuah kesempatan, Kang Dani membawa kabar bahwa pada tanggal satu Juli kami akan pergi ke Jakarta untuk bernasyid bersama Snada, Suara Persaudaraan dan “Raihan!” kemudian pada tanggal duanya, kami akan tampil kembali bersama mereka di Sasana Budaya Ganesa Bandung. Ya, gedung Sabuga, dulu sewaktu kelas 4 saya pernah datang ke gedung itu untuk menonton filem petualangan Syerina dan itupun dengan tiket gratis dari panitia yang sengaja datang ke asrama untuk membagikan pada kami anak-anak tunanetra. Gedung itu luar biasa luas dan megah, suara sonsistemnya jernih dan bagus, tak kami sangka akhirnya kami dapat tampil di sana, di hadapan ribuan penonton.

Setelah kabar itu, kami semakin giat berlatih, hingga hari itu tanggal 1 Juli kami bisa tampil dengan sangat baik. Katanya siiiih! Bukan Cuma itu, hal lain yang khususnya saya rasakan, ketika pertama kalinya saya menginjakan kaki di kota Jakarta, rasanya saya senang sekali, meskipun saya hanya datang ke Universitas Indonesia bukan ke taman mini atau dunia fantasi, tapi saya senang luarbiasa.

Itulah sekelumit kisah mengharukan di UMV yang saya bisa ceritakan, cerita itu hanya segelintir cerita di antara buku tebal cerita indah di UMV yang saya dan teman-teman alami semasa kami masih jadi tim nasyid, dan sekarang UMV telah meleburkan diri menjadi sebuah LSM yang bergerak pada program pemberantasan buta huruf al Quran Braille, untuk kepentingan saudara-saudara kami sesama tunanetra muslim.
Semoga apa yang UMV lakukan bersama para donator yang mewakafkan sebagian hartanya bagi pengadaan al quran ini dapat memberikan ibroh bagi kehidupan dunia dan akhirat.